7upasia.net

www.bola7up.com – Juventus terus bergeliat di bursa transfer. Sekalipun jendela transfer musim panas belum resmi dibuka, empat pemain sudah resmi didatangkan untuk jadi amunisi tim di musim depan. Yang terkini mereka memboyong kiper masa depan Brasil, Norberto Neto, secara gratis selepas kontraknya habis bersamaFiorentina.

Jika ditilik dari statusnya sebagai pemain bebas transfer, manajemen Juve jelas kembali melakukan siasat transfer jitu karena mendapatkan pemain berkualitas tinggi dengan cuma-cuma. Namun situasinya bakal menjadi samar, jika menerka rencana Juve pada karier Neto.

Alasannya apalagi jika bukan keberadaan penjaga gawang utama sekaligus kapten tim, Gianluigi Buffon. Di usianya yang sudah mencapai 37 tahun, Gigi masih jadi salah satu kiper terbaik di dunia dan performanya bahkan kembali meningkat musim lalu. Sulit untuk menyingkirkannya dalam waktu dekat. 

Terlebih Superman sudah menegaskan masih betah berkompetisi di sepakbola level tertinggi. “Saya masih ingin berada di level sekarang ini, setidaknya untuk tiga musim ke depan,” terang lulusan akademi Parma tersebut. Neto jelas tak bisa menunggu selama itu untuk memulai dinastinya di Juventus Stadium.

Pertanyaan pun mengemuka, apakah Neto datang untuk jadi suksesor atau hanya sekadar jadi bayangan Buffon?


                                         Neto dihadirkan seiring kepergian Storari

Keputusan Juve untuk melepas Marco Storari seiring kedatangan Neto, tergolong sebuah kebijakan yang tak terelakkan lagi dilakukan. Meski selalu tampil memuaskan setiap kali menggantikan Buffon selama lima musim keberadaannya, Storari tak memberi garansi masa depan bagi I Bianconeri. Usianya yang sudah menginjak 38 tahun jadi penyebab.

Memang masih ada nama kiper ketiga, Rubinho dan kiper keempat, Emil Audero Mulyadi. Namun menjadikan mereka deputi Buffon secara langsung jelas amat riskan. Rubinho sudah nyaris tiga tahun tak merasakan atmosfer sepakbola kompetitif, sementara Mulyadi — yang merupakan pemain keturunan Indonesia — masih terlalu hijau di usianya yang baru menginjak 18 tahun. Karenanya kehadiran Neto memiliki arti penting sebagai pengisi pot Storari.

Namun di sisi lain sejatinya merupakan sebuah kejutan ketika akhirnya Neto memilih Juve sebagai masa depan, ketimbang peminat serius lainnya, Liverpool. Dengan kualitasnya kini, dirinya bisa mendapati karier yang lebih baik di tim yang lebih besar dari Fiorentina, dengan tuntutan yang tak begitu berat. Bukan bersama Si Nyonya Tua yang merupakan antitesis dan sudah memiliki kiper sekelas Buffon.

“Neto harus berpikir ulang untuk bergabung dengan Juventus. Bukannya meremehkan kemampuannya, tapi Juve tengah berada di level yang sangat tinggi dan masih memiliki Buffon. Seorang legenda yang kualitasnya belum terkikis. Neto harus lebih berkembang dan tak bisa hanya jadi kiper pelapis,” tutur pelatihtimnas BrasilCarlos Dunga, sesaat sebelum Neto hijrah.

Dalam situasi ini, godaan Beppe Marotta cs pada Neto berarti krusial dan patut diacungi jempol. Di usianya yang masih 25 tahun, pemain lulusan akademi Atletico Paranaense ini lantas diyakini bakal jadi suksesor Buffon.
Menilik statistik, Neto memang memiliki catatan yang cukup apik. Tapi, dirinya tidak istimewa seperti yang digembar-gemborkan publik dan media. Benar jika highlight memperlihatkan bahwa ia memilik respons yang luar biasa, namun (sepertinya) sosoknya bukanlah calon kiper besar.

Torehan 77 penyelamatan dan sepuluh clean sheet-nya musim lalu, memang layak diacungi jempol. Namun fakta memaparkan, jika torehan itu masih belum mampu memasukkan Neto dalam sepuluh besar kiper tebaik Serie A musim lalu. Neto kalah dari nama-nama yang lebih asing macam Marco Sportiello (138 penyelamatan), Orestis Karnezis (126 penyelamatan), dan Mattia Perin (109 penyelamatan). Padahal ketiga kiper itu berasal dari klub yang notabene berada di bawah level dan peringkat Fiorentina, dengan deretan lini belakang yang juga tak lebih mentereng.

Secara head to head, jumlah penyelamatan Neto memang unggul dari Buffon. Namun perbedaan besar tampak, soal kiper mana yang memiliki kemampuan dan pengalaman lebih dalam mengomando lini belakang. Meski tergolong kiper yang vokal, Neto kerap disalahkan atas miskomunikasi dengan bek sentral sekaligus kapten La Viola, Gonzalo Rodriguez.

Selain itu mentalitas Neto untuk berperan krusial di partai penting, masih tergolong lemah. Ia kerap tampil jomplang, ketika timnya kemasukan terlebih dahulu. Musim lalu dirinya selalu kebobolan lebih dari dua gol sebanyak tujuh kali, tatkala Fiorentina tertinggal terlebih dahulu. Padahal kiper berpostur 191 centimeter itu tampil luar biasa sebelum kebobolan. Anda bisa melihat dengan jelas kelemahan itu saat Il Gigliati kalah 4-0 dari Lazio dan 3-0 dari Sevilla musim lalu.

Sepanjang sejarah klub, Juve juga amat jarang memiliki kiper non-Italia yang sanggup mapan di skuat reguler dan menghadirkan prestasi. Sejauh mata memandang, kita hanya akan terngiang nama-nama macam Dino Zoff, Stefano Tacconi, Michelangelo Rampulla, Angelo Peruzzi, hingga kini Gigi Buffon, yang dikenal sebagai kiper handal klub dari masa ke masa. Legenda besar sepakbola Belanda macam Edwin Van der Sar saja masuk dalam golongan kiper gagal di La Vecchia Signora.

Karenanya dapat kita simpulkan bahwa, manajemen Juve sejatinya sadar jika Neto bukanlah sosok pas suksesor Buffon. Namun harapan untuk itu jelas ada, meski tak terlampau besar. Satu hal yang pasti, keberadaan Neto akan menghadirkan rasa aman bagi Sang Kekasih Italia jika Buffon terpaksa absen. Layaknya Storari dahulu, tapi kini dengan jaminan masa depan yang lebih jelas.


Source: 7upAsia