7upasia.net

berita7up.com – Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak dunia, lewat 1,4 miliar jiwa, sejatinya adalah masuk akal jika Tiongkok sanggup berperan krusial di berbagai sektor kehidupan. Ekonomi adalah yang utama dan yang paling populer, setelahnya kita bisa menyebut bahwa mereka juga merupakan olahraga.

Negara olahraga? Jika Anda kurang yakin, mari tilik prestasi Tiongkok dalam pesta olahraga internasional bergengsi. Di Asian Games, Negeri Tirai Bambu merupakan rajanya dengan sembilan gelar juara umum. Sementara di pentas Olimpiade, mereka masuk dalam 10 besar negara dengan koleksi medali terbanyak, bahkan jadi satu-satunya wakil Asia yang pernah jadi juara umum.

Namun khalayak luas menganggap Tiongkok bukanlah negara olahraga sejati. Alasannya? Mudah saja, karena prestasi mereka nihil di olahraga terpopuler dunia, yakni sepakbola.

Prestasi terbaik timnas Tiongkok sejauh ini adalah dua kali jadi runner-up Piala Asia serta hanya beroleh satu medali perak dan perunggu di Olimpiade. Mereka juga baru sekali lolos ke Piala Dunia.

Ketika Tiongkok punya sosok melegenda di cabang bulu tangkis layaknya Lin Dan, Yao Ming di bola basket, hingga Su Bingtian di atletik, siapa yang mereka punya di sepakbola? Apakah Sun Jihai yang jadi andalan Manchester City ketika dahulu hanya memiliki target lolos dari degradasi? Atau Dong Fangzhou, andalan Manchester United di laga uji coba?

Tiongkok sempat dicap sebagai pecundang sepakbola

Tiongkok bahkan sempat dicap sebagai pecundang sejati sepakbola pada 2010 lalu, saat belasan pemain serta lebih dari 20 pengurus klub dan federasi tersandung skandal korupsi kelas berat. Dalam penelusuran BBC terhadap kasus tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa tak ada kejujuran dalam sepakbola Tiongkok.

Bayangkan, setidaknya terdapat lebih dari 10 kasus pengaturan skor pada 2010, korupsi sponsor dan hak siar televisi oleh para petinggi klub dan federasi, hingga sogokan untuk memasukkan belasan pemain titipan di timnasnya.

Parahnya masyarakat Tiongkok yang jumlahnya miliaran itu, mayoritas memiliki sikap antipati pada kondisi memprihatinkan sepakbolanya. Mereka sudah cukup nyaman dan bangga dengan prestasi negerinya di cabang olahraga lain, sekalipun faktanya tayangan sepakbola entah nasional maupun internasional, merupakan jualan laris televisi setempat.

Masyarakat Tiongkok juga terkesan menghindari segala hal yang berbau sepakbola praktis. Struktur yang dibuat pemerintah Negeri Panda kala itu jadi faktor di balik hal tersebut. Mereka tak menyediakan lapangan sepakbola dalam jumlah cukup dan kurikulum olahraga sekolahnya menempatkan sepakbola sebagai materi paling belakang. Sepakbola pun hanya dijadikan formalitas belaka.

Fenomena itu dipaparkan oleh Ma Dexing, jurnalis senior Titan Sports. “Mereka hanya meminta anak-anak bermain sepak bola saat ada tamu penting datang. Setelah tamu pergi, mereka menyudahinya dan tak melakukan apapun,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Sven-Goran Eriksson pada masa-masa awal merintis karier kepelatihan di Tiongkok. “Di sini, sepakbola televisi disiarkan sepanjang waktu, bukan hanya Liga Inggris atau Liga Champions, tapi semua liga Eropa. Tapi anehnya mereka tak memiliki hasrat bermain sepakbola layaknya anak muda Inggris. Ini masalah Tiongkok. Tidak ada level akar rumput,” ujarnya.

Xi Jinping jadi aktor krusial kebangkitan sepakbola Tiongkok

Sungguh sebuah ironi dan merupakan kejahatan terhadap leluhurnya. Sebagaimana diketahui, dunia mengenal Tiongkok sebagai negara penemu sepakbola, lantaran sudah memainkannya sejak 206 SM. Kini dengan sokongan 1,4 miliar penduduknya, cukup 11 pesepakbola berkualitas saja tak kunjung mereka lahirkan.

Untungnya hadir sosok yang punya status krusial di Tiongkok, yang menyadari benar masalah tersebut. Siapa lagi kalau bukan sang presiden, Xi Jinping. Sejak 2011 saat masih menjadi wakil presiden, dia terus menyerukan kebangkitan sepakbola negaranya melalui tiga ambisi, yakni meloloskan Tiongkok ke Piala Dunia, menjadi tuan rumah Piala Dunia, dan jadi kampiun Piala Dunia.

Langkah konkret dilakukannya dengan mengetatkan hukuman bagi para koruptor terlebih dahulu, dilanjutkan penetapan kebijakan membangun 20 ribu sekolah sepakbola, yang ditargetkan rampung pada 2017. Sang presiden memproyeksikan bakal ada sepuluh siswa di setiap sekolah yang akan jadi pesepakbola profesional berkualitas.

Namun hasil dari kebijakan tersebut mungkin baru akan dirasakan sedekade berselang. Karenanya Xi lantas menerapkan kebijakan yang dampaknya lebih cepat sebagai stimulus bakat lokal negaranya, dengan menjauhkan perusahaan swasta atau perusahaan yang memiliki saham dari Tiongkok dari bisnis perumahan. Mereka dianjurkan untuk menginvestasikan dana ke urusan sepakbola Tiongkok.

“Sekarang ekonomi [Tiongkok] telah memasuki fase lain. Xi Ingin membangun industri olahraga yang besar. Itu akan mengambil waktu beberapa tahun. Oleh karenanya, dia membuat rencana yang sangat terperinci untuk berinvestasi pada bidang olahraga,” ujar Mads Davidsen, yang pernah bekerja di Tiongkok sebagai pelatih selama empat tahun.

Liga Super Tiongkok kini jadi liga dengan hak siar termahal di Asia

Karenanya kini klub-klub anggota Liga Super Tiongkok (CSL), yang merupakan kompetisi sepakbola tertinggi Tiongkok, jadi sasaran investasi deretan perusahan besar nan vital setempat. Mereka jadi memiliki dana yang melimpah untuk membangun infrastuktur, membentuk manajemen hebat, hingga mendatangkan deretan pemain kelas dunia yang baru-baru ini jadi fenomena menghebohkan.

Perkembangannya berlangsung setahap demi setahap dan Guangzhou Evergrande, yang disokong oleh perusahaan pengembang perumahan bernama Evergrande, jadi klub yang paling menonjol dalam menerapkan kebijakan sang presiden secara positif. Mereka membentuk manajemen klub handal berbekal masukan dari legenda pelatih Italia, Marcello Lippi, hingga berbuah prestasi yang otomatis menghadirkan keuntungan finansial.

Guangzhou secara mengejutkan kemudian keluar sebagai kampiun Liga Champions Asia pertama asal Tiongkok. Mereka bahkan sanggup meraihnya dua kali dalam tiga gelaran terakhir. Kegemilangan itu bukan mustahil diikuti oleh klub-klub koloninya di CSL.

Kebijakan brilian dilahirkan, deretan transfer bintang lima didatangkan, prestasi besar mulai muncul, sinar lebih terang pun hadir dengan menjelmanya CSL menjadi liga dengan hak siar termahal di Asia.

Seperti dilansir The Guardian, jika pada 2015 hak siar CSL hanya $9 juta per musim, maka mulai 2016 angka itu akan naik super siginifkan sebesar $250 juta per musim! Jumlah itu merupakan bagian dari kontrak senilai $1,5 triliun untuk lima tahun ke depan.

Dengan begini, maka CSL resmi mengalahkan J-League Jepang yang sebelumnya jadi liga termahal di Benua Kuning senilai $101,5 juta per musim. Melalui sokongan hak siar sebesar itu, Anda bisa bayangkan pemain semahal apa lagi yang bisa didatangkan klub-klub penghuni CSL di masa depan.

Berdasar paparan gemuk di atas, masihkah Anda ragu menyepakati CSL sebagai kiblat baru sepakbola Asia menggantikan J-League? Satu hal yang pasti bahwa kini Tiongkok bukan lagi pecundang sepakbola.


Source: 7upAsia