Waktu Pertandingan Bola Diusulkan Hanya Jadi 2×30 Menit

Ini baru usulan, tetapi sepertinya menarik untuk dicoba dan berpeluang mengubah wajah sepak bola jika jadi ditetapkan.

International Football Association Board (IFAB), lembaga yang menentukan segala peraturan dalam pertandingan sepak bola (Laws of the Game), telah merilis proposal usulan mereka untuk membuat pertandingan menjadi lebih menarik dan efektif, serta meningkatkan rasa hormat kepada ofisial pertandingan.

Usulan-usulan tersebut dituangkan dalam sebuah proposal berjudul “Fair Play!” (fail pdf).

Salah satu usulan yang paling revolusioner adalah mengurangi waktu pertandingan menjadi 2×30 menit, alias satu jam saja.

Namun satu jam pertandingan itu adalah waktu bersih. Artinya, sama seperti pada pertandingan bola basket, waktu akan dihentikan jika permainan terhenti karena bola keluar lapangan atau ada pelanggaran.

Perubahan radikal tersebut, menurut IFAB, tidak hanya akan membuat para pemain tak mau lagi membuang-buang waktu, tetapi juga menjamin setiap pertandingan pada setiap kompetisi berjalan dengan Effective Playing Time (EPT) yang sama.

“Banyak orang yang frustasi karena 90 menit pertandingan biasanya memiliki EPT kurang dari 90 menit,” tulis IFAB. “Strategi ini mengusulkan ukuran untuk mengurangi pembuangan waktu dan mempercepat pertandingan.”

Gianfranco Zola, kepada BBC (17/6/2017), menyatakan mendukung proposal mengurangi waktu pertandingan menjadi 60 menit.

“Saya secara personal menyukai peraturan ini karena ada banyak tim yang mencoba mengambil keuntungan karena sudah unggul dan kemudian membuang-buang waktu –jadi saya pikir ini bukan peraturan yang buruk,” kata mantan pemain tim nasional Italia itu.

“Sepak bola sudah cukup cepat. Ada beberapa perubahan lain yang tidak saya sukai, tetapi yang ini sangat bagus.”

Dalam proposal tersebut, IFAB menyatakan ada beberapa perubahan yang mereka usulkan itu bisa langsung diterapkan, ada yang siap untuk “diuji atau eksperimen”, dan ada yang perlu “didiskusikan lebih lanjut”.

Beberapa usulan yang akan “didiskusikan lebih lanjut” antara lain:

  1. Tendangan bebas, tendangan gawang, dan sepak pojok bisa dilakukan tanpa menendang bola secara langsung. Artinya, pemain yang mengambil bola bisa langsung menggiring bola tersebut.
  2. Wasit hanya meniup peluit tanda berakhirnya babak pertama dan berakhirnya pertandingan saat bola sudah keluar lapangan.
  3. Tendangan penalti yang memantul di tengah pertandingan, baik dari tangan kiper maupun karena menghantam tiang gawang, tidak boleh diteruskan oleh sang penendang maupun pemain lain. Jadi aturannya disamakan dengan saat adu penalti.
  4. Tendangan gawang bisa dilakukan tanpa harus menunggu bola berhenti di garis gawang.
  5. Untuk menghemat waktu, pemain yang diganti mesti keluar dari sisi lapangan yang terdekat dengan dia, tidak perlu berjalan ke tengah lapangan dulu.

Usulan yang langsung ditetapkan adalah yang berhubungan dengan pemberantasan pembuangan waktu, misalnya meminta wasit untuk benar-benar menerapkan aturan yang menetapkan bahwa kiper hanya boleh menahan bola selama 6 detik.

Sementara itu, beberapa usulan sudah mulai dicoba pada Piala Konfederasi 2017 yang sedang berlangsung di Rusia. Salah satunya adalah hanya mengizinkan kapten tim untuk berbicara kepada wasit di dalam lapangan agar para pemain tidak mengerubungi wasit.

Satu proposal lagi yang tengah dicoba adalah urutan penendang jika terjadi adu penalti. Jika biasanya sistem yang dilakukan adalah A-B, A-B hingga kelima algojo selesai, maka IFAB menggantinya menjadi A-B, B-A, A-B hingga selesai.

Penggantian urutan penalti tersebut dilakukan agar setiap tim bisa merasakan “keuntungan sebagai penendang pertama”. Biasanya penendang kedua lebih terbebani karena keberhasilan penendang pertama.

Asosiasi sepak bola dunia (FIFA) memiliki 50 persen hak suara dalam dewan IFAB, sementara sisa suara lainnya dipegang oleh asosiasi sepak bola Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Proposal yang diajukan baru disetujui jika 3/4 suara mendukungnya. Oleh karena itu bisa saja aturan baru yang disetujui FIFA tak bisa diterapkan karena gagal mencapai kuota suara di IFAB.

“Wasit, pemain, pelatih, dan penggemar semua setuju bahwa memperbaiki tingkah laku pemain dan respek pada semua –khususnya ofisial pertandingan–, meningkatkan waktu bermain, serta pertandingan yang adil dan menarik harus menjadi prioritas utama sepak bola,” tegas direktur teknik IFAB, David Elleray.


Source: Berit7