7upasia.net

18 kontestan Liga 1 Indonesia mendapatkan kejutan dari PSSI usai Lebaran. Kejutan itu tidak membuat senang klub namun malah membuat sejumlah klub meradang.

Organisasi pimpinan Letjen Edy Rahmayadi itu seenaknya mengubah regulasi kompetisi. PSSI meminta PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator mengubah regulasi pergantian pemain dari lima kembali menjadi tiga pemain. Selain itu, pemain pengganti yang ada di bangku cadangan juga kembali ke tujuh pemain dari sebelumnya sembilan pemain.

Namun, melalui surat nomor 155/LIB/VI/2017 tertanggal 29 Juni 2017 yang ditujukan kepada manajemen klub peserta Go-Jek Traveloka Liga 1 2017, PT LIB selaku operator kompetisi menyampaikan jika regulasi terkait kewajiban memainkan pemain berusia 23 ditanguhkan sejak pekan 12 yang bergulir mulai 3 Juli 2017 hingga pekan 22 yang berakhir pada 31 Agustus 2017. Regulasi terkait kewajiban memainkan pemain berusia 23 bakal mulai berlaku pada 1 September 2017.

Keputusan itu sendiri sesuai regulasi, didasarkan pada keputusan PSSI yang disampaikan kepada PT LIB melalui surat nomor 1601/UDN/916/VI-2017 tertanggal 28 Juni 2017. Dalam surat yang ditandatangani Plt Sekretaris Jenderal PSSI Joko Driyono, PSSI juga memutuskan aturan yang berlaku sepanjang implementasi regulasi terkait kewajiban memainkan pemain berusia di bawah 23 ditangguhkan.

“Entah ini hadiah lebaran atau lelucon. Regulasi kompetisi seenaknya diganti di tengah jalan. Bila semua bisa diubah semaunya buat apa ada regulasi?,” kata Koordinator Save Our Soccer #SOS, Akmal Marhali

“Konsisten untuk tidak konsisten dalam penerapan regulasi. Mungkin inilah kehebatan kompetisi sepak bola Indonesia dibandingkan negara lainnya yang ingin dijaga. Mau dibawa kemana sepak bola kita?” tegasnya.

Tidak konsistennya PSSI dalam menjalankan liga sudah menjadi penyakit kronis sepak bola negeri ini sejak 2008 silam. Kala itu, FIFA dan AFC mensosialisasikan Lisensi Klub Profesional dengan lima aspeknya (Legalitas, Infrastruktur, Keuangan, Supporting, dan Sumber Daya Manusia) PSSI tidak menggubrisnya.

“Bila sejak 2008 sepak bola Indonesia konsisten dan komitmen terhadap aturan, kompetisi kita sudah setara J-League Jepang dan Australian League,” sambungnya

“Tetapi, Kita lebih memilih untuk menabrak semua aturan demi kepentingan-kepentingan sesaat yang kadang tak masuk akal. PSSI lebih senang dengan kontroversi daripada prestasi. Sayangnya Pemerintah dalam hal ini (Kemenpora) melalui BOPI sebagai pengawas olahraga profesional seperti sudah kehilangan kekuatan untuk memberikan teguran dan peringatan,” tambah Akmal.

Sejatinya, pergantian pemain dari tiga kelima di awal musim sudah menjadi kotroversi. Maklum, kebijakan itu melanggar Law of The Game FIFA yang dikeluarkan The International Football Association Board 2016/2017.

Dalam peraturannya terkait Kompetisi Resmi (Official Competitions), FIFA menyatakan “A maximum of three substitutes may be used in any match played in an official competition organised under the auspices of FIFA, confederations or national football associations.” (Maksimal tiga pergantian pemain yang bisa dilakukan dalam satu pertandingan pada kompetisi resmi yang digelar di bawah kendali FIFA, Konfederasi, maupun Asosiasi Sepak Bola Nasional.

Pada bagian penjelasan (explanation) juga dipaparkan bahwa FIFA, confederations, and national football associations can allow up to maximum of five substitutes in all competitions except at the highest level. (FIFA, Konfederasi, dan Asosiasi Sepak Bola Nasional boleh mengizinkan maksimal lima pergantian pemain di semua kompetisi kecuali di level tertinggi.

“PSSI juga telah melanggar statutanya sendiri. Di pasal 8 Statuta PSSI tentang Law of The Game disebutkan PSSI dan tiap anggotanya melangsungkan permainan sesuai dengan Law of the Game yang dikeluarkan oleh IFAB,” kata Akmal.


Source: Berit7