5 Taktik & Formasi yang Sedang Ngetren di Liga Inggris

Liga Inggris sudah memasuki pertandingan ke-11. Sejauh ini terlihat perkembangan menarik terkait tren penggunaan taktik yang dipakai oleh 20 tim peserta kompetisi. Berikut lima di antaranya:

1. Taktik sepak bola menekan jadi favorit
Taktik yang mengandalkan penguasaan bola, yang pernah populer beberapa tahun lalu, mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya gaya “pressing game” jadi favorit. Mauricio Pochettino melakukannya di Tottenham, dengan mengandalkan gaya bremain menekan di daerah lawan untuk merebut bola seawal mungkin. Juergen Klopp menerapkan “counter-pressing” di Liverpool, yakni sesegera mungkin merebut kembali bola saat lepas ke kaki lawan. Lalu ada Josep Guardiola yang menekankan pentingnya para pemain Manchester City untuk menekan lawan di daerahnya sendiri. Problem untuk taktik ini adalah tim-tim terlalu sibuk untuk merusak permainan lawan ketimbang menciptakan peluang-peluang lewat kombinasi umpan.

2. “False nine” jadi andalan
Arsenal dan Liverpool menggunakannya dan meraih hasil bagus di awal musim ini. Liverpool lebih sering memakai Roberto Firmino sebagai penyerang, meski posisi aslinya adalah gelandang serang. Padahal klub itu punya Daniel Sturridge, yang merupakan penyerang murni. Arsenal juga memiliki Olivier Giroud yang berposisi sebagai penyerang murni, tapi musim ini lebih sering memakai Alexis Sánchez, yang berposisi gelandang serang, di lini terdepannya.

3. Pertahanan dengan tiga pemain
Antonio Conte menerapkannya di Chelsea, setelah klub itu kedodoran saat memakai formasi 4-1-4-1. Salah satu kelebihan 3-4-3 yang dia terapkan adalah keberhasilan memaksimal daya serang Eden Hazard, setelah pemain Belgia itu dibebaskan dari kewajiban bertahan. Ronald Koeman juga beberapa kali menerapkannya di Everton, meski tak selalu sukses. Tottenham sempat memakai tiga bek saat ditahan Arsenal 1-1. Pep Guardiola juga beberapa kali menerapkan formasi ini di Manchester City.

4. Gol dari bola mati
Musim ini wasit lebih keras terkait pelanggaran dengan menarik kaus pemain lawan saat umpan bola mati dilakukan. Akibatnya, Leicester yang musim lalu menekankan pertahannya dengan gaya seperti ini kerap mendapat sempritan dari wasit. Sejauh ini rata-rata gol yang dicetak dari umpan bola mati adalah 0,65 per laga, naik dari 0,59 per laga pada musim lalu.

5. Pemain berperan bebas kian berkurang
Tim-tim besar kian terstruktur dan sistematis dalam pembagian peran di lapangan. Pemain yang biasa berperan sebagai playmakers kini kian dibatasi perannya. Mereka harus menyesuikan diri dengan kebijakan itu atau disingkirkan. Cesc Fabregas adalah salah satu contohnya, yang kini terpinggirkan di Chelsea. Kevin De Bruyne dan David Silva juga tak lagi bisa bebas bergerak semaunya di Manchester City. Satu-satunya sosok bebas tersisa adalah Mesut Oezil di Arsenal.


Source: Berit7